Perkembangan Radio
Delvina Claurincia Mukiat
11140110104
Radio adalah teknologi pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan gelombang elektromagnetik. Gelombang ini melintas dan merambat melalui udara dan juga merambat melalui ruang angkasa yang hampa udara karena helombang tersebut tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).
Radio sendiri sudah mengalami proses perkembangan yang cukup lama sebelum akhirnya menjadi media komunikasi sekarang ini. Seseorang bernama Dr. Lee De Forest (1873-1961) dari Amerika Serikat merupakan seseorang yang dianggap sebagai pelopor dalam penemuan radio. Radio berhasil diketemukan pada tahun 1916 dan ia pun mendapatkan julukan yaitu “The Father of Radio”.
Lalu kemudian Gugliermo Marconi yang kemudian terkenal karena penemuan telegraf tanpa kawatnya dan dia telah merintis penemuan teknologi radio sejak tahun 1894. Pada saat itu ia membaca eksperimen dari Heinrich Rudolf Hertz (1857-1894) ahli fisika berkebangsaan jerman. Hertz menemukan suatu gelombang elektromagnetis dari suatu majalah italia. Marconi melakukan eksperimen dengan menggunakan dasar pengetahuan dari penemuan Hertz pada tahun 1895. Melalui eksperimennya ia berhasil menerima sinyal tanpa kawat dalam jarak 1 mil melalui sumbernya. Pada tahun 1896 ia mencoba beberapa eksperimen lain yaitu mengirimkan sinyal dn dapat diterima dalam jarak 8 mil. Penemuan inilah yang lalu dikembangkan oleh Dr. Lee De Forest. Forest juga mengenalkan lampu vakum agar dapat menyiarkan suara yang masuk dan lampu terswebut digunakan pada tahun 1906.
Di bidang teknologi dalam usaha penyempurnaan radio sudah dirintis oleh Prof. E.H. Amstrong dari uniiversitas Colombia yang menciptakan sirkuit superheterodyne 1918. Sirkuit tersebut mempunyai kemampuan seleksi yang tinggi. Ia juga memperkenalkan system FM (frequency modulation) sebagai penyempurnaan dari AM (Amplitude Modulation) pada tahun 1933 yang kemudian dikenal sebagai “Bapak Penemu Radio”. Namun hak atas amplifier jatuh ke tangan Dr. Lee De Forest. Sampai saat ini amplifier masih menjadi inti teknologi dalam pesawat radio. Dengan adanya system baru tersebut ada banyak manfaat yang dapat diperoleh sebgai berikut :
- Dapat menghilangkan interferensi (gangguan, pencampuran) yang disebabkan oleh cuaca, bintik-bintik marahari, atau alat listrik
- Dapat menghilangkan interferensi yang disebabkan oleh dua stasiun yang bekerja pada gelombang yang sama.
- Menghasilkan suara yang lebih baik.
Perkembangan radio di Indonesia sendiri telah mengalami proses yang cukup panjang. Mulai dari zaman kekuasaan Hindia-Belanda lalu zaman kekuasaan Jepang dan zaman Indonesia merdeka. Radio siaran pertama yang telah di ussahakan oleh Hindia-Belanda dikenal dengan nama BRV (Bataviasche Radio Vereenging) di Jakarta pada tanggal 16 juni 1925. Setelah BRV berdiri mulai lah muncul beberapa radio siaran lainnya seperti NIROM (Nederlandsch Indishce Radio Omroep Mij) di Jakarta, Bandung, dan Medan yang mendapat izin oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1934 dan berlokasi di Tanjung Priok. Termasuk juga MAVRO (Mataramse Vereenging Voor Radio Omroep) di Yogyakarta.
Di Surakarta berdiri lah SRV (Solossche Radio Vereeniging) pada tanggal 1 april 1933 yang didirikan oleh Mangkunegoro VII dan Sarsito Mangunkusuo. SRV dianggap sebagai pelopor munculnya radio karena diusahakan oleh bangsa Indonesia. Pada tanggal 24 Maret 1937 di dirikanlah PPRK (Persatuan Perkumpulan Radio Ketimuran) di Bandung berkat usaha dari M. Sutarjo Kartohadiku dan Sarsito Mangunkusumo. Alasan didirikan PPRK adalah dengan tujuan berupaya memajukan kesenian dan kebudayaan nasional guna kemajuan masyarakat Indonesia secara Jasmani dan Rohani.
Pada zaman pendudukan Jepang radio ditangani oleh Hoso Kanri Kyoko. Pada saat itu radio sangat lah mengalami kemuduran dan kemunduran tersebut disebabkan karena semua kegiatan radio diarahkan untuk kepentingan militer Jepang saja tetapi pada saat pemerintahan Jepang kesenian dan kebudayaan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Rakyat memiliki kesempatan untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian. Inilah yang menjadikan munculnya para seniman pencipta lagu-lagu Indonesia.
Pada saat masa Indonesia Merdeka perkembangan radio sangatlah pesat. Orang-orang yang berada dalam bidang radio mengganggap penting untuk mengorganisasikan radio siaran. Pada tanggal 11 September 1945 dipimpin oleh Abdurrachman Saleh diadakanlah rapat di Jakarta yang dihadiri oleh 6 pemimpin dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Purwokerto, Semarang, dan Surakarta. Para pemimpin radio tersebut setuju untuk membentuk radio siaran yang bernama Radio Republik Indonesia (RRI).
Hasil yang ditetapkan seperti :
- Tanggal 11 September 1945 ditetapkan sebagai hari lahirnya RRI
- Semua Yang hadir Menyatukan diri sebagai pegawai RRI
- Pusat RRI dijakarta yang memiliki cabang RRI yang pertama adalah Jakarta, Bandung, Surakarta, Purwokerto, Semarang , Malang, Yogyakarta , dan Surabaya
- Abdurrachman Saleh Dipilih sebagai Pemimpin Umum RRI
- Semboyan RRI “ Sekali di udara tetap diudara”
Pada tahun 1974 stasiun radio swasta niaga bergabung dalam PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia). Lalu pada tahun 1984, Penghargaan dari The Population Institute (Lembaga Kependuduan) yang berpusat di Washington didapatkan oleh RRI , karena siaran radio sandiwaranya terbaik se- Asia yang berjudul “Butir-Butir Pasir di Laut”.
Setelah pada akhirnya merdeka siaran Indonesia di luar negeri dikenali dengan nama Voice Of Indonesia (suara Indonesia). RRI kemudian ditunjang oleh MMTC (Multimedia Training Center) yang bertujuan untuk mendidik dan melatih para karyawan. Fungsi radio sejak ditemukan sampai sekarang adalah sebagai bagian dari hiburan, pendidikan, propaganda, dan pembangunan (menyampaikan hasil-hasil dari pembangunan).

