Blue Flower

Grace Josephine

 

1306410250

Teknologi dan Perkembangannya

dalam Kajian Media

 

            Kajian media adalah salah satu prodi yang dapat kita ikuti di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Kajian media ini sangat dianggap penting dalam pembelajaran Ilmu Komunikasi karena kita tahu seberapa kuat implikasi dari media massa dan pengaruhnya pada sosial politik dalam masyarakat maupun negara. Media massa berpengaruh pada banyak ranah bermasyarakat, bahkan pola pikir pun dipengaruhi oleh media. Media massa sendiri disebut-sebut sebagai institusi pendidikan kedua setelah sekolah. Sebuah perspektif bangsa dapat dibentuk dari konten yang ditulis atau disiarkan dalam media massa.

            Media massa menawarkan banyak hal. Bukan hanya sebagai penyebar berita, media massa juga menawarkan hiburan, pendidikan, inspirasi, atau motivasi. Tidak semua isi dalam media itu buruk, tetapi tidak ada salahnya waspada. Banyak sekali konten dalam media massa yang harus diwaspadai, antara lain adalah seksualitas (tentang ekpos seksualitas sebagai mental association yang semakin meluas, bahkan ke kalangan anak-anak), kekerasan (adegan-adegan kekerasan, baik fisik maupun mental yang dipertontonkan secara vulgar hingga di segmen anak), materialisme (iklan dan beragam program komersil/nonkomersil yang berupaya menanamkan citra suatu produk/jasa di benak khalayak, dan Kondisi fisik tubuh, sebagian besar mengenai penanaman nilai-nilai kecantikan atau kesempurnaan tubuh dengan citra yang berlebihan dan dapat menimbulkan sifat konsumerisme di masyarakat).

            Dari penjelasan di atas saya yakin kita paham betul bagaimana media massa dianggap sangat penting dan dibutuhkan sebuah badan untuk melakukan pengawasan terhadap media massa tersebut. Di negara kita, Indonesia, tanggung jawab ini diemban oleh suatu Badan Otonom bernama KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Selain dibentuknya badan ini juga dibuat banyak usaha lain untuk meningkatkan pengetahuan dan awareness kita dalam hal konten apa yang disajikan di media massa. Kita sebagai mahasiswa komunikasi yang akan belajar tentang etika dalam media massa ini juga merupakan sebuah usaha untuk melakukan pengkajian.

            Teknologi yang didefinisikan Marshall McLuhan sebagai ekstensi dari kemampuan manusia dan sampai sekarang perkembangannya semakin pesat dan terlihat tidak bisa dibendung ini pun kemudian dimaanfatkan dalam fungsi pengawasan media massa ini. Bentuk pemanfaatan teknologi ini sangat banyak. Badan-badan pengawasan seperti KPK menggunakan teknologi sebagai bahan untuk mengawasi kedua pihak baik penyiar maupun publik yang menerima siaran.

            Cara pertama yang digunakan adalah sistem rating. Rating awalnya dilakukan untuk dapat mengikuti dan mengetahui selera masyarakat. Lama kelamaan sistem rating ini dimanfaatkan masyarakat untuk menilai kualtas dari suatu acara. Walaupun begitu, calon Anggota Komisi Penyiaran Indonesia, Rusdin Tompo, mengingatkan mengenai bahaya rating dalam industri penyiaran Indonesia. Menurut Rusin, tayangan yang memiliki rating tinggi belum tentu menyajikan tontonan yang bermutu. Menurutnya sistem rating memang harus dibongkar. Ia meragukan bagaimana bisa orang melihat tayangan karena suka atau karena  kesal atau karena sedang cari-cari tayangan, dihitung sebagai penonton. Rusdin pun mengusulkan agar dibentuk suatu lembaga yang khusus memberikan rating suatu tayangan di stasiun televisi berdasarkan kualitas acara.

            Cara mengukur rating pun bermacam-macam dan di tiap negara bisa saja berbeda. Cara mengukur rating di Amerika yang menerapkan sistem rating nya dengan nama “Nielsen’s Rating” berbeda dengan sistem rating yang dipakai di Inggris dan Australia. Teknologi metering elektronik adalah inti Nielsen’s Rating. Dua jenis pengukuran yang digunakan antara lain: satu set meter menangkap apa saluran yang sedang disetel, sementara People Meter melangkah lebih jauh dan mengumpulkan informasi tentang siapa yang menonton di samping saluran disetel. Buku harian juga digunakan untuk mengumpulkan informasi dari rumah tangga contohnya di banyak pasar televisi di Amerika Serikat, dan pasar yang lebih kecil diukur dengan buku harian kertas. Setiap tahun Nielsen memproses sekitar dua juta buku harian kertas dari rumah tangga di seluruh negeri. Buku harian mingguan dikirimkan ke rumah untuk menjaga penghitungan apa yang disaksikan di setiap set televisi dan oleh siapa. Lalu ada periode di mana buku harian itu dikumpulkan. Jadi Nielsen’s Rating dapat bekerja dengan cara elektrikal maupun konvensional. BOARB atau Broadcasters’ Audience Research Board adalah sebuah sistem rating yang diterapkan di United Kingdom.  Sedangkan di Australia sistem rating dilakukan oleh 3 badan besar yaitu OzTAM, Regional TAM, dan Nielsen Media Research Australia.

            Selain dari rating yang bertujuan untuk mengukur jumlah penonton atau pengengar suatu siaran, ada juga Television Content Rating System. Television Content Rating ini adalah sebuah usaha untuk memilah-milah acara apa saja yang suitable untuk ditonton masyarakat dari golongan apa. Contohnya, acara dengan konten yang dapat ditonton keluarga di label dengan “AG” atau all ages, dan kemudian waktu penanyangannya disesuaikan, yaitu pada waktu siang atau sore hari. Lalu untuk acara-acara yang hanya cocok untuk ditonton oleh orang dewasa dilabeli “18+” dan ditayangkan pada malam hari. Television Content Rating System ini juga berbeda-beda di setiap negara karena standar yang berbeda dari setiap budaya tentang apa yang pantas untuk ditonton oleh siapa. Setelah adanya Television Content Rating System ini, sistem pengamanan yang ada di media-media lainnya pun juga lebih dimudahkan, contohnya adalah pengamanan di Youtube di mana ada video-video yang hanya bisa ditonton oleh user dengan umur di atas 18 tahun dan sudah sign in.

            Dengan menggunakan teknologi juga kita sekarang dimudahkan untuk melakukan survey melalui media. Contohnya adalah pengiriman questioner penelitian melalui email atau pun message di salah satu media sosial seperti facebook dan twitter. Dan bukan hanya dapat melakukan survey melalui media, teknologi juga dapat digunakan dalam melakukan survey tentang media habits. Hal ini sangat mudah untuk menggambarkan masyarakat media dengan bantuan Barometer Media. Hal ini membuatnya berguna untuk banyak peneliti. Media Barometer bukanlah studi pertama untuk mengajukan pertanyaan tentang Internet sebagai media survey. Ada konservatisme dalam survei, dan saya pikir ini baik. Jadi teknologi dipakai untuk mengembangkan sebuah cara yang dari dulu sudah digunakan.

            Melalui teknologi juga sebuah perusahaan televisi, radio, atau koran juga dengan mudah mendapat feedback yang kemudian akan membantu mereka untuk mengetahui bagaimana tanggapan pemirsa tentang tayangan yang ditayangkan. Apabila opini dari publik sudah diterima, maka badan penyiaran dapat melakukan revisi yang berdampak pada pemertahanan program ata pergantian program. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan ruang publik untuk audience response maupun dengan membuat survey tentang cara-cara yang disampaikan. Selain itu keefektifitasan program pun dapat diukur dengan berbagai cara denga menggunakan teknologi.

            Setelah menguraikan banyak contoh tentang kajian media dan teknologi ini kita sekali lagi disadarkan bahwa teknologi dapat dengan baik mempermudah kegiatan pengkajian media. Kita sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi harus dengan pandai dan bertanggung jawab mengambil peran untuk mengawasi media yang pengaruhnya sangat kuat ini dengan seefisien-efisiennya memanfaatkan teknologi.

 

REFERENSI

·        McLuhan, Marshall. 1994. Understanding Media: The Extension of Man. Massachusetts: The MIT Press

 

·        Baran, Standley J. 2011. Introduction to Mass Communication: Media Literacy and Culture. New York: McGraw-Hill Higher Education