Blue Flower

Dunia sekarang ini penuh dengan berbagai informasi yang tersedia. Berbagai informasi tersebut memenuhi segala bidang kebutuhan suatu masyarakat. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi masyarakat informasi. Masyarakat informasi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan masyarakat dalam penggunaan informasi dan teknologi yang baru. Teknologi baru ini memberikan banyak manfaat dalam segala bidang kehidupan manusia. Masyarakat informasi juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan masyarakat di mana pengolahan informasi merupakan inti dari kegiatannya. Pengolahan informasi yang dimaksud adalah masyarakat dapat memproduksi, mendistribusi, dan juga dapat memanipulasi. Masyarakat melakukan suatu kegiatan berdasarkan sebuah informasi yang didapatkannya. Selain itu, masyarakat informasi memengaruhi adanya kontrol sosial, dimana muncullah teknologi yang dapat mengatur semua informasi yang dibutuhkan oleh manusia.

Teori difusi inovasi adalah sebuah bentuk komunikasi yang berfungsi untuk menyebarkan pesan yang berupa beberapa gagasan baru, penyebaran tersebut melalui saluran komunikasi sehingga informasi dalam penyebarannya tidak menggunakan waktu yang terlalu lama. Pembahasan mengenai teori ini merupakan pembahasan mengenai sebuah inovasi yang dapat dikomunikasikan kepada masyarakat menggunakan jangka waktu tertentu. Rogers (1961) dan Mulyana S. (2009) mendefinisikan inovasi sebagai suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan yang berupa gagasan baru. Inovasi yang memiliki arti sebuah konsep atau penemuan terbaru tidak selamanya dapat diartikan sebuah penemuan atau konsep terbaru oleh semua orang. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda satu dengan lainnya. Hal yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjadi sesuatu yang diinginkan, dibutuhkan, dan mampu dicoba oleh masyarakat luas serta dapat diobservasi oleh seluruh masyarakat yang dapat dimaksud sebagai inovasi. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu sendiri bukan orang lain. Critical mass theory menggambarkan bahwa yang memiliki peran yang lebih besar adalah yang nantinya akan digunakan dalam kelompok tersebut. Misalnya saja kecanggihan gadget yang terbaru, karena ia memiliki peran yang lebih besar dan mempermudah kebutuhan manusia, maka pada akhirnya alat inilah yang akan digunakan. Terlebih lagi karena mayoritas kelompok mulai menggunakan teknologi tersebut dalam berkomunikasi dan penyebaran informasi. Mayoritas kelompok menggunakan teknologi tersebut karena adanya harga dari teknologi tersebut yang terjangkau sesuai dengan kebutuhan dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai masyarakat informasi, masyarakat membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan teknologi yang muncul. Manusia yang mulai belajar untuk menggunakan serta mempelajari cara kerja sebuah teknologi yang sudah terjalankan ataupun teknologi baru. Hal ini dinamakan adopsi teknologi. Dalam kenyataannya tidak selamanya terjadi adopsi teknologi, hal tersebut dikarenakan ada kala manusia menolak atau tidak mau menggunakan teknologi yang sudah ada atau yang baru keluar. Adopsi teknologi memiliki dua teori yang mendukung hal tersebut, kedua teori tersebut yaitu teori difusi inovasi dan critical mass theory. Teori ini melihat bahwa media adalah pembentuk kesadaran. Representasi yang dilakukan oleh media tersebut dalam sebuah struktur masyarakat lebih dipahami sebagai media yang mampu memberikan konteks pengaruh kesadaran (manufactured consent). Dengan demikian, media itu sendiri menyediakan pengaruh untuk mereproduksi dan mendefinisikan status atau memapankan keabsahan struktur tertentu.

Teknologi itu sendiri dapat memberikan dampak bagi kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Dampak dari teknologi terhadap masyarakat atau pengguna dijelaskan dalam tiga teori. Ketiga teori yang membahas tentang dampak teknologi terhadap masyarakat atau pengguna, antara lain : Uses and Gratification Theory, Social Learning Theory dan Teori Ketergantungan Media. Pada Uses and Gratification Theory memiliki fokus untuk audience member serta pemilihan media yang diinginkan serta pemilihan media yang digunakan. Hal ini merupakan hal yang menjadi fokus dari Uses and Gratification Theory. Teori ini melihat audiens dari proses komunikasi massa sebagai individu yang aktif, selektif dan memiliki tujuan tertentu terkait dengan terpaan media kepadanya. Dengan kata lain, individu atau audiens (khalayak) sebagai makhluk sosial mempunyai sifat selektif dalam menerima pesan yang ada dalam media massa. Masyarakat yang akan selalu memilih dan selalu mempunyai keinginan untuk membutuhkan sesuatu yang berbeda pada setiap waktu untuk menggunakan media tertentu merupakan arti dari audience member pada teori Uses and Gratification Theory. Faktor pengaruh masyarakat atau individu dalam memilih sebuah media yang akan digunakan dan menjadikan media tersebut menjadi kebutuhannya yaitu suatu kebutuhan yang mendorong, harapan terhadap media tersebut untuk dimiliki, dan faktor latar belakang sosial. Teori ini juga merupakan pendekatan yang bersifat deskriptif yang dapat memberikan pengetahuan dan wawasan maupun pengalaman tentang hal apapun yang telah dilakukan oleh khalayak banyak dengan teknologinya. Teori ini juga menjelaskan bahwa keaktifan dan pasifnya dapat dilihat ketika seseorang mencari dan menggunakan media tersebut sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang berbeda fungsi. Teori ini pun telah digunakan untuk melakukan survei mengenai para pengguna yang puas atau tidak dalam memakai media teknologi yang mereka gunakan. Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) adalah teori yang membahas perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura pada tahun 1986. Teori ini tidak memandang manusia sebagai sesuatu yang dikontrol oleh kekuatan-kekuatan internal dan tidak pula sebagai boneka yang tak berdaya terhadap pengaruh-pengaruh lingkungannya. Tetapi, teori ini berpendapat bahwa sebaiknya fungsi psikologis itu dipahami sebagai suatu interaksi timbal-balik antara perilaku dengan kondisi-kondisi yang mengontrolnya.

Dalam Media System Dependency Theory menjelaskan bahwa semakin seseorang tergantung pada suatu media untuk memenuhi kebutuhannya, maka media tersebut menjadi semakin penting untuk orang tersebut. Pada teori ini, individu akan selalu mengalami ketergantungan pada media yang mampu memenuhi kebutuhan mereka serta pencapaian oleh media tersebut untuk kebutuhan serta tujuan setiap individu. Jika seseorang mengalami ketergantungan terhadap media yang ia miliki untuk pemenuhan kebutuhan, maka media tersebut memiliki dampak yang lebih penting serta mampu mempengaruhi penggunanya dan kehidupan penggunanya. Dengan kata lain, individu memiliki keterikatan dengan medianya. Meskipun individu dapat ketergantungan pada media yang mereka gunakan, tetapi individu tidak akan memiliki tingkat kebutuhan yang sama pada setiap media yang ia gunakan atau miliki. Contohnya, seseorang lebih memiliki ketergantungan terhadap smartphone-nya dibanding televisi. Smartphone lebih memiliki fitur lengkap dan mudah dibawa untuk memenuhi kebutuhan informasi dan komunikasi seseorang, sedangkan televisi terlalu ribet untuk dibawa dan tidak efisien untuk melakukan interaksi komunikasi jarak jauh.

Adapula teori yang membahas dalam pendekatan ekonomi yang masih memiliki keterkaitan dengan teori-teori sebelumnya. Ada dua teori, yaitu Long Tail Theory dan Relative Constancy Theory. Long Tail Theory yang dicetuskan oleh Chris Anderson merupakan kajian teori ilmu ekonomi sehingga lebih menitikberatkan pada perdagangan yang berdampak pada cara masyarakat dalam melakukan sebuah transaksi. Teori ini mendorong munculnya harapan dalam menghadapi ekonomi yang sedang jatuh. Dalam kaitannya dengan teknologi, teori ini membahas mengenai angka transaksi yang dilakukan di dalam dunia maya atau yang lebih kita kenal dengan online shop, berbeda dengan transaksi yang mengharuskan pembeli dan penjual saling bertemu dan tatap muka. Transaksi dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, asalkan memiliki fasilitasnya. Transaksi dengan jenis ini jelas lebih banyak diminati oleh pengusaha muda karena modal yang dikeluarkan relatif kecil dan tingkat kebutuhan akan tenaga kerja yang kecil pula. Relative Constancy Theory memberikan penjelasan mengenai banyaknya dana yang digunakan untuk sebuah media, baik oleh pemasangan iklan pada media, maupun oleh konsumennya. Teori Relative Constancy ini mengatakan bahwa semua media akan menghabiskan biaya dalam jumlah besar untuk kegiatan produksi sebuah produk komunikasi, tetapi konsumen juga akan mengeluarkan sejumlah uang untuk mengakses informasi yang ingin mereka dapatkan. Teori ini menjelaskan mengenai bagaimana sebuah media massa membayar untuk menciptakan suatu iklan dalam bentuk produk itu sendiri. Iklan tersebut tentu saja ditunjukan atau ditampilan kepada konsumen atau masyarakat-masyarakat yang akan melihat iklan itu sendiri. Oleh karena itu, banyak sekali perusahaan yang berani mengeluarkan banyak uang untuk mempromosikan atau mengiklankan produk mereka sendiri.

Shienny Kiatandi  - 14140110061